Manusia Si Mesin Pencetak Sampah

Manusia Si Mesin Pencetak Sampah - Dunia ini adalah sebuah lingkungan hidup tempat kita tinggal, lahir, bekerja, bermain, bersanda gurau dan lain sebagainya. Alam beserta isinya adalah kreatifitas hasil seni terbaik sepanjang masa karya sang Maha Pencipta jagat raya, alam beserta isi semua diciptakan-Nya hanya untuk manusia. Sekarang pertanyaannya, kenapa manusia? “iya, kenapa ya?” jawabannya sesungguhnya sudah jelas karena manusia terlahir sebagai Khalifah atau bahasa kerennya tuh.. Leader. Fungsi manusia adalah untuk menjaga, mengatur dan merawat lingkungan hidup tempat manusia tinggal dengan benar supaya selalu asri.

Tapi nyatanya berbeda bro… coba kita perhatikan lagi, korupsi, peperangan, bencana alam, kemiskinan, kerusakan alam, sosial budaya yang semakin tak punya integritas, ekonomi menjadi senjata para negara maju untuk merusak politik-politik Negara berkembang (yaelahh kok jadi lari ke politik) dan masih banyak lagi hal-hal yang merugikan. Dan perlu  kita sadari semua masalah-masalah itu saling berkaitan dan sangat kompleks. Ada kesamaan dari masalah-masalah tersebut yakni sama-sama tercipta dari ulah manusia.

Manusia yang harusnya jadi khalifah malahan jadi kaum perusak di muka bumi sa;ah satunya adalah kebiasaan manusia untuk menciptakan sampah tiap harinya. Bayangkan saja jika dalam sehari satu kantong plastic sampah ukuran besar bias diproduksi oleh satu unit rumah tangga saja, seminggunya sudah 7 kanting plastic, sebulan bisa 30 kantong plastik (Waduhh) itu baru satu rumah tangga, belum lagi sampah dari pasar, kantor, perusahaan dan masih ada lagi. (Aduhhh) bisa jadi lingkungan ini seperti tempat sampah raksasa. Namun yang jadi masalah bukan sampahnya tapi kebiasaan manusia untuk sembarangan, nah itu dia masalahnya, sekali lagi SEMBARANGAN.

Sebelum kita membahas lebih dalam mari kita sama-sama kenali penggolongan sampah. apa saja penggolongan sampah?  umumnya masyarakat mengenal ada 2 jenis sampah, yaitu sampah organik dan anorganik (non-organik). Ada pula sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Yuk kita kenali satu persatu.



1. Sampah Organik (Sampah Basah)

Sampah organik yaitu sampah yang berasal dari sisa-sisa makhluk hidup (material biologis) yang dapat membusuk dengan mudah, misalnya:
- sisa makanan,
- dedaunan kering,
- buah dan sayuran.


2. Sampah Anorganik (Sampah Kering/Non-organik)


Sampah jenis ini berasal dari bahan baku non biologis dan sulit terurai, sehingga seringkali menumpuk di lingkungan. Sampah anorganik atau disebut juga sampah kering sulit diuraikan secara alamiah, sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut. Yang tergolong ke dalam sampah anorganik yaitu:

- plastik dalam bentuk botol, kantong, dan sebagainya,
- kaleng,
- kertas,
- kaca,
- styrofoam,
- dan lain-lain.


3. Sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya)
 

Yaitu limbah dari bahan yang beracun dan berbahaya seperti limbah rumah sakit, limbah pabrik, pertambangan, dan sebagainya.

Ketiga jenis sampah tersebut banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menangani permasalahan sampah, biasanya sampah dipilah-pilah sesuai jenisnya. Menggunakan tiga tempat sampah berbeda, yaitu organik, anorganik, dan B3, masing-masing jenis sampah akan mendapat perlakuan yang berbeda. Untuk sampah anorganik dapat dibuat kompos, sampah anorganik dapat didaur ulang atau dijadikan bahan kerajinan tangan, sedangkan sampah B3 harus diolah secara khusus menggunaan metode kimia, fisik, dan biologi dengan tujuan menghilangkan atau mengurangi sifat berbahaya dan beracunnya.
             
Sampah, apabila terlalu banyak akan menimbulkan berbagai masalah lingkungan. Untuk mengatasinya, diperlukan teknik 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace) untuk mengurangi sampah. Selain itu, kepedulian kita terhadap lingkungan turut memegang peranan penting dalam upaya pelestarian lingkungan.

Sudah pahamkan penggolongan sampah? “Sudah-sudah iya sip, lanjut..!” Akibat dari kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan tersebut adalah terjadintya banjir karena tumpikan sampah di saluran air seperti parit-parit dan sungai, timbul rasa tidak nyaman, mudah muncul sumber penyakit, dan terlebih lagi gara-gara sampah tidak akan ada daya tarik suatu tempat, sehingga tempat tersebut tidak diminati para pelancong.

Sampah ada dimana-mana, dirumah,jalan raya, jalan tikus, sekolah, kampus, di pasar apa lagi, selalu ada sampahdimana-mana, dimana ada manusia pasti ada sampah. Sudah cocok kiranya jika manusia disebut mesin pencetak samapah, iyakan? “Betul-betul setuju..”. coba kita perhatikan, suatu tempat yang banyak terdapat manusia dengan yang jarang terdapat manusia. Contoh daerah yang banyak manusia adalah kota, di kota manusia tinggal, faktanya selalu ada sampah tiap harinya.  Kalau daerah yang jarang terdapat manusia contohnya adalah hutan, faktanya tidak ada atau jaraang terlihat sampah berserakan khususnya sampah Organik, anorganik dan sampah beracun. Tapi sekali lagi, sebelumnya sudah saya jelaskan, memang manusialah pencipta sampah tetapi bukan itu masalahnya broo. Masalahnya ada pada sikap dn kebiasan manusia untuk cenderung membuang sampah sembarangan, sekali lagi apa SEMBARANGAN. Dahulu saat saya masih SMA guru saya pernah berpesan, gini nihh “Janganlah kalian menjadi manusia yang tidak bermanfaat  dan tak bisa ramah dengan alam, karena jika kalian seperti itu kalian sama seperti sampah, yaa SAMPAH MASYARAKAT”. Okee sudah jelas, jadi manusia yang tidak berguna itu adalah bagaikan sampah masyarakat, mau..!? “Tidakkk..”. maka janganlah menjadi kaum perusak di muka bumi ini, jangan sampai kita mendapat akibatnya karena ulah kita sendiri.

Okee sekarang kita mengerucutkan pembahasan, seputar kondisi di kote kite, bagi masyarakat kota Pontianak, pernahkah kita melihat di gapura selamat datang perbatasan Pontianak dan KubuRaya simpang empat depan kantor Polda “Pernah, iya pernah liat, ada apaan tuh?”. Di gapura tersebut tertulis Pontianak Kota Bersinar, kemudian dibawahnya ada tulisa BSIAR. “apa tuh?” BESIAR alias Bersih, Sehat, Indah, Aman, dan Ramah. Itulah cita-cita kota Pontianak, kata bersih tertulis paling atas karena itulah yang paling utama. Jika kota ini tidak bersih maka kota ini tak akan bisa disebut sehat, sudah tidak bersih, tidak sehat tidak bisa deh kalo gitu kota Pontianak ini disebut indah. Tidak bersih, tidak sehat, dan tidak sehat itu mencerminkan kepedulian masyarakat dan pemerintah yang masih rendah terhadap lingkungan hidup, hasilnya tujuan kota Pontianak ini untuk aman dan ramah pun juga tidak tercapai, kalau begitu kota Pontianak bukan bersinar tapi pontianak kota kegelapan “Sedihnye kote nih”.

                   
Selanjutnya saya mau cerita pengalaman pribadi nih, “Asikkk..” beberapa minggu lalu saat perayaan Hari Ulang Tahun kota Pontianak yang ke 243. Saya mengikuti sebuah kegiatan namanya SENYUM KAPUAS, mantab dahh. Kegiatan itu sangat positif, terdapat perwakilan dari berbagai lapisan masyarakat seperti Pelajar SMA ada SMAN 1 Pontianak dan SMAN 3 Pontianak, Mahasiswa dari Polnep dan UNTAN, ada juga komunitas-komunitas seperti Komunitas motor dan Komunitas Pecinta ANIME Jepang,  ada juga aparat Negara seperti TNI dan Polri, serta masih banyak lagi. Saat itu, kami dikumpulkan di alun-alun Kapuas untuk upacara dan pengarahan, selanjutnya kami dibagi-bagi  untuk disebar ke sepanjang tepian sungai Kapuas, untuk apa? Untuk membersihkan sampah-sampah di sungai. Sesampai disana, kalian ingin tahu apa yang kami rasakan, mau muntah, bau abis, asli ngerusak mata kalo dipandang tuh sungai karena saking banyaknya sampah disana, dari yang organik, anorganik sampai yang beracun. Nahh.. dan yang paling miris itu ternyata masyarakat yang jelas-jelas tinggal disana. Yaampun mereka sangat tidak peduli dengan lingkungannya sendiri, dengan santainya mereka mandi, gosok gigi, cuci pakaian, cuci sayur, cuci beras, ada yang asik berenang, ada juga yang bersihin motor, semua dilakukan bersama-sama “Prok.. Prok, kompak abiss!!” semua itu dilakukan dalam area yang tak terlalu jauh atau saling berdekatan dan ditambah lagi dikelilingi sampah-sampah seperti bekas popok, botol, kantong plastik, makanan busuk, kayu, dedaunan, dan yang paling ekstrim adalah ada emas ngambang di sungai alias kotoran manusia “Alamak”. Aksi yang kami lakukan saat itu mungkin tidak akan bisa membersihkan sungai sampai tuntas, namun setidaknya kami bisa memberi inspirasi dan berbagi kepedulian serta contoh positif bagi pemerintah dan masyarakat sekitar “huhu terharu”.

Kita perlu mencontoh apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat maupun Uni Eropa, berpegang pada tiga prinsip berikut untuk menangani sampah:


  1. Mencegah Produksi Sampah. Strategi ini adalah yang terpenting dalam pola pengelolaan sampah yang sangat terkait dengan upaya perusahaan untuk memimimalisir kemasan dan upaya memengaruhi konsumen untuk membeli produk-produk yang ramah lingkungan. Jika upaya ini berhasil – dengan bantuan media dan lembaga terkait – maka dunia akan bisa mengurangi sampah secara signifikan dan mendorong penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan dalam setiap produk yang dikonsumsi oleh masyarakat.
  2. Mendaur ulang dan menggunakan kembali suatu produk. Jika kita masih sulit untuk mencegah terciptanya sampah, langkah daur ulang adalah langkah alternatif yang bisa dilakukan untuk menguranginya. Baik AS maupun negara Uni Eropa, mereka sudah menentukan jenis sampah apa saja yang menjadi prioritas untuk diolah dan didaur ulang, meliputi sampah kemasan, limbah kendaraan, beterai, peralatan listrik dan sampah elektronik.Uni Eropa juga meminta negara-negara anggotanya untuk membuat peraturan tentang pengumpulan sampah, daur ulang, penggunaan kembali dan pembuangan sampah-sampah di atas. Hasilnya tingkat daur ulang sampah kemasan di beberapa negara anggota Uni Eropa mencapai lebih dari 50%. Di AS, keberhasilan upaya daur ulang sejumlah produk juga sangat menggembirakan. Jumlah baterai (aki) kendaraan yang berhasil didaur ulang mencapai 96%. Jumlah surat kabar dan kertas yang berhasil didaur ulang ada di tempat kedua sebesar 71% dan sekitar duapertiga (67%) kaleng baja berhasil didaur ulang. Tantangan terbesar ada pada upaya mendaur ulang produk-produk elektronik konsumen dan wadah gelas. AS baru berhasil mendaur ulang seperempat (25%) dan sepertiganya.
  3. Memerbaiki cara pengawasan dan pembuangan sampah akhir. Jika sampah tidak berhasil didaur ulang atau digunakan kembali sampah harus dibakar dengan aman. Lokasi pembuangan sampah adalah solusi terakhir. Kedua metode ini memerlukan pengawasan yang ketat karena berpotensi merusak lingkungan. Uni Eropa baru-baru ini menyetujui peraturan pengelolaan TPA yang sangat ketat dengan melarang pembuangan ban bekas dan metetapkan target pengurangan sampah yang bisa terurai secara biologis. Batas polusi di tempat pembakaran sampah juga telah ditetapkan. Mereka juga berupaya mengurangi polusi dioksin dan gas asam seperti nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO2), dan hidrogen chlorida (HCL), yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Catatan penting, berdasarkan data EPA, upaya daur ulang dan pembuatan kompos di AS berhasil mencegah pembuangan 85,1 juta ton sampah pada 2010, naik dari hanya 15 juta ton pada 1980. Prestasi ini setara dengan mencegah pelepasan sekitar 186 juta metrik ton emisi setara karbon dioksida (CO2) ke udara pada 2010 atau setara dengan memensiunkan 36 juta mobil dari jalan raya dalam satu tahun! Upaya pengelolaan sampah yang baik tidak hanya memecahkan masalah pencemaran lingkungan tapi juga bisa menjadi solusi memerlambat efek pemanasan global. Sampai di mana kita?

Perlu kita sadari sobat… jika lingkungan hidup ini bisa menangis sungguh dia akan menangis, jika lingkungan hidup ini bisa marah sungguh dia pasti akan marah, kepada siapa? Ya kepada kitalah manusia gitu lohh. Betapa kejamnya kita merusak tempat dimana kita dilahirkan, hidup, bahkan sampai mati lingkungan hidup ini tetap rumah kita. Ayoo.. kita buat perubahan, khususnya para pemuda karena pemuda adalah coming generation bukan out generation, kita yang muda agent of change, maka dari itu lakukan hal yang positif untuk perbaikan lingkungan kita mulai dari menghilangkan kebiasaan membuang sampah sembarangan sampai ikut aksi dalam menyelamatkan lingkungan. Perlu juga kerja sama pemerintah untuk membenahi berbagai sector seperti pendidikan, ekonomi, budaya, dan sector-sektor lain yang berkaitan.

“Ada urusan umat yang AL-Qur’an butuh Pemimpin untuk melakukan perubahan” Ustadz Felix Xiau

Betul sekali, kita butuh pemimpin yang peduli terhadap lingkungan hidup. Oleh karena itu pemuda adalah pemimpin masa depan, teruslah belajar dan perbaiki kualitas diri iman dan taqwa serta ilmu. Kita butuh kebijakan pemerintah yang pro terhadap lingkungan hidup, serta perbaiki system tata kenegaraan yang bersih dan efektif.

“Jika ingin melakukan perubahan yang besar dan permanen maka lakukanlah perubahan pada SISTEMnya.” Ustadz Felix Xiau.

Okee inilah akhir dari artikel ini, kita sudah berjalan-jalan melihat problematika seputar lingkungan hidup khususnya dalam pengelolaan sampah, terus lah optimis karena tidak semua manusia tidak peduli terhadap lingungannya, namun masih banyak manusia-manusia yang peduli terhadap lingkungan dan melakukan aksi perubahan terhadap lingkunganhidupnya serta menjadi manusia yang bermanfaat sehingga tidak disebut sebagai sampah masyarakat, serta masih banyak pemuda yang sadar akan perannya sebagai agent of change, pemudalah coming generation bukan out generation, dimanakah posisi kita saat ini wahai para pemuda? Ayo! Berdiri lakukan perubahan, kitalah pemimpin masa depan.


Oleh: I'ib Persada

Post a Comment

0 Comments